
Surabaya, 20 Agustus 2024 – Dalam rangkaian kegiatan Selasa Literasi, siswa kelas 9D SMPN 55 Surabaya menyajikan sebuah pementasan monolog berjudul "Mimpi dalam Buku" yang dibawakan dengan apik oleh Nadhira Arimbi Putri Martoyo. Bertempat di lapangan sekolah, pementasan ini mendapat perhatian penuh dari siswa dan guru yang hadir.
Monolog yang diperankan oleh Nadhira menggambarkan kritik tajam terhadap program literasi di sekolah yang menurutnya hanya sebatas formalitas. Tokoh Ana, yang diperankannya, menyuarakan kegelisahan tentang bagaimana literasi sering kali hanya menjadi slogan tanpa makna yang nyata. "Aku suka tenggelam dalam dunia yang diciptakan oleh kata-kata. Tapi, di sekolahku, membaca bukanlah sesuatu yang istimewa. Literasi? Hanya jadi program omong kosong, kata itu terasa jauh dan asing," ujar Ana dalam monolog tersebut.
Di penghujung pementasan, Ana menyampaikan harapan yang mendalam agar para guru dapat memahami pentingnya literasi. "Aku ingin guru-guru mengerti, bahwa literasi adalah fondasi. Tanpa literasi, kami hanya menghafal tanpa memahami. Tanpa literasi, kami hanya tahu angka tanpa bisa menalar," ungkap Ana, menutup monolognya dengan pesan yang menggugah.
Untung, S.Pd., Wali Kelas 9D, memberikan pandangannya terhadap pementasan tersebut. Menurutnya, tema yang diusung sangat relevan dengan kondisi pendidikan saat ini. "Apa yang disampaikan Nadhira dalam monolog ini adalah refleksi dari keprihatinan yang dirasakan siswa. Ini menjadi catatan penting bagi kami para guru untuk lebih serius dalam mengimplementasikan program literasi di sekolah," tutur Untung.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi momentum bagi seluruh warga SMPN 55 Surabaya untuk lebih mendorong semangat literasi di kalangan siswa.